
Sudah dua bulan aku menunda untuk melanjutkan menulis di judul ini. Juga, sudah dua bulan fase mental dan pikiranku berubah-ubah — dari ide dan niat awalku untuk menulis judul ini, hingga pada akhirnya untuk memutuskan tetap melanjutkan menulis dengan judul yang sama, setelah banyak hal melintas dalam benakku. Bahkan aku saja sekarang sudah tidak ingat sesuatu yang mendasari aku untuk ingin membuat tulisan ini pada awalnya.
Kembali lagi membuka laptop pada jam 2 dini hari dengan sebotol air putih di sebelah kanan dan memutar musik post-rock untuk membantuku mengeluarkan ide menulis, yang sejujurnya aku sendiri tidak mengerti apa arti dari lirik dalam lagu genre seperti ini—tapi setidaknya mood musik di genre ini serasi dengan suasana gelap dan dingin di kamarku. Entah mengapa dari pertama kali mendengarkan tipe lagu seperti ini rasanya sudah sangat cocok dengan preferensiku. Aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya, mungkin analoginya seperti “sebuah ketidakpastian yang ritmis”, entah itu masuk akal atau tidak.
Banyak sekali hal yang membuatku tidak bisa fokus terhadap sesuatu, terkadang aku lupa akan satu atau dua hal kecil yang begitu sepele tetapi itu adalah hal yang paling terpenting. Misal saja dalam menulis, terkadang aku lupa sebuah kata kunci terhadap pikiran ataupun perasaan yang ingin aku ceritakan, yang pada akhirnya hal itu akan tenggelam dalam gelapnya malam.
“Tak pernah terbit di ufuk timur, juga tak bersinar pada gelapnya malam — layaknya bintang-bintang yang menyeletuk hari ini. Tenggelam dalam bayangan, tak tersentuh oleh dinginnya cahaya rembulan”.
Hilang tanpa makna, mungkin seperti sebuah perpisahan — bisa juga sebuah pertemuan. Seolah-olah ada pergeseran makna, orbit bintang baru yang menyelimuti gelapnya malam. Layaknya sebuah ruang, begitu ambigu — ruang tiga dimensi yang tak luput akan makna. Sekian banyak ruang yang telah aku singgahi, seperti sebuah matriks yang begitu kompleks namun begitu sederhana.
Bagaimana aku bisa menceritakan makna “ruang” menurutku… Ruang ialah seperti kanvas kosong, fleksibilitas akan sebuah kemungkinan yang tak terhingga jumlahnya. Ruang bisa menjadi sebuah kapsul waktu akan sebuah momen, namun bisa juga menjadi sebuah kekosongan — hati dan pikiran. Suatu saat aku pernah melewati sebuah jembatan, berpikir sejenak begitu indahnya untuk menikmati malam di jembatan ini, namun temanku berkata “Orang-orang yang bundir di jembatan gitu kepikiran apa ya?”.
Pada titik itu, persepsiku akan “ruang” menjadi berbeda. Ruang ternyata sebuah pemikiran — sebuah rasa dan eksistensi. Kamar akan tidak bisa disebut kamar jika tidak dibuat tidur, ruang tamu tidak bisa disebut itu bila jika tidak ada tamu, ruang keluarga tak bisa disebut itu bila tak ada keluarga, bahkan rumah tak bisa disebut rumah jika bukan tempat untuk pulang. Lalu apa arti ruang?
Ruang mungkin ada karena keberadaan, ruang ada mungkin karena perasaan. Ruang hanyalah sebuah medium tiga dimensi yang dapat dirasakan dengan panca indera, tetapi tanpa sebuah nyawa ruang hanyalah angan dan kekosongan. Mungkin omonganku hanyalah seperti tong kosong — bisa saja begitu, tetapi disini aku hanya ingin mencari sebuah benang merah antara “ruang” dan memori. Ternyata setiap memori akan meninggalkan residualnya dalam sebuah ruang.
Tapi aku tak pernah menyangka bahwa terkadang residu itu tidak akan pernah hilang — sepertinya. Tetap tertinggal dalam serpihan partikel di dalam ruagnya atau yang akhirnya terhidup dan masuk ke dalam diri. Menyatu dalam sel darah merah, menghantui segala memori yang ada. Pada akhirnya itu mungkin hanya sebuah angan, karena menyerupa dalam sebuah perasaan akan sebuah ketiadaan.