Sebuah konteks dalam arsitektur, terdapat tiga penjabaran, yaitu ruang; waktu; dan manusia. Pastinya arsitektur tak akan bisa lepas dari zaman, tetapi arsitektur juga tidak serta-merta terikat dengan zaman. Contohnya fenomena arsitektur belakangan ini, mulai banyak bermunculan bangunan vintage yang diusung kembali di tengah maraknya perkembangan teknologi yang semakin pesat. Dari sini bisa dilihat bahwa memang arsitektur itu bukan hanya sebuah persoalan langgam belaka, ibaratkan sebuah roda, konteks arsitektur yang menggabungkan ruang, waktu, dan manusia akan menjadi satu kontinuitas dan pengulangan. Sebuah dimensi spasial merupakan tempat terjadinya peristiwa, dimensi temporal atau waktu yang menunjukkan kapan peristiwa tersebut terjadi, dan manusia sebagai user yang akan menggunakan fungsionalitas arsitektur tersebut. Kebutuhan manusia akan selalu berubah dan temporal, sebuah arsitektur akan menyelesaikan persoalan ini apabila sudah memiliki dasar contextual architecture.

Arsitektur akan selalu lahir dari sebuah kebutuhan, tidak seperti sebuah seni yang lahir dari eskpresi. Jika dikaitkan arsitektur dan seni, dari sinilah akan dilahirkan sebuah langgam. Salah satu contohnya adalah kafe Starbucks yang terletak di Jl. Ijen Malang, memang secara kurun waktu tahun ke tahun tapak itu sudah menjadi tempat komersil, akan tetapi konsep mendatangkan bangungan dengan fungsi yang terikat budaya modern pada kawasan heritage adalah hal yang unik.

Arsitektur Responsif_Alif Putra Aulia_220606110064_page1_image1.jpg

Dari contoh tersebut bisa dilihat bahwa karya arsitektur tak akan jauh dari ruang, waktu, dan manusia. Aspek artistik akan selalu mengalami percepatan, perputaran, dan pengulangan dari zaman ke zaman, tetapi aspek kebutuhan ruang akan selalu terikat dengan konteks dalam arsitektur itu sendiri. Tak hanya bangunan komersil saja, bahkan bangunan rumah tinggal pun akan mengalami fenomena yang sama. Langgam pada akhirnya akan menjadi sebuah ekspresi dari kebutuhan ruang yang telah didasari contextual architecture itu sendiri.

Arsitektur layaknya sebuah idealisme yang timeless atau juga untuk memenuhi kebutuhan yang silih berganti. Konteks dalam arsitektur sudah seharusnya bisa responsif terhadap zaman yang akan selalu berubah. “Arsitektur Responsif” bukan hanya soal penyesuaian, adaptasi, dan perubahan, namun arsitektur juga harus tak lupa akan empati. Pada akhirnya arsitektur tanpa empati hanyalah ruang tanpa arti. Konteks dalam arsitektur ada karena kesadaran arsitek dalam merancang. Empati akan menjembatani arsitektur untuk mewadahi peradaban yang lebih baik lagi.