Secara singkat konsep divergen dan konvergen adalah proses eksplorasi dan aktualisasidalam desain. Seorang arsitek biasanya mencari sebuah persoalan desain dalam fase divergen, mengeksplorasi segala jenis kemungkinan yang bisa dilakukan dalam tahap analisis. Seorang arsitek harus menjadi generalist disaat mendesain, meleburkan berbagai wawasan untuk mengetahui berbagai macam kemungkinan yang akan dilakukan.
Pada fase konvergen arsitek mulai mengerucutkan fokusnya dalam menganalisis, juga mulai menggunakan pendekatan desain untuk menentukan konsep yang akan diangkat. Pengerucutan ini dilakukan agar menciptakan parameter desain yang kuat, sehingga hasil desain yang diciptakan bisa menjadi ikonik.

Fallingwater, karya terkenal Frank Lloyd Wright, juga mencerminkan perpaduan antara pendekatan divergen dan konvergen dalam proses desainnya. Pada awal proses, Wright menggunakan pemikiran divergen dengan mengeksplorasi berbagai cara untuk menyatukan bangunan dengan alam. Ia mempertimbangkan berbagai kemungkinan bagaimana elemen-elemen alami, seperti batu, air, dan pohon, dapat terintegrasi dengan arsitektur modern. Pendekatan divergen ini memungkinkan Wright untuk menemukan banyak solusi kreatif guna menciptakan rumah yang tidak hanya berdiri di atas lahan, tetapi menjadi bagian dari lanskap secara harmonis.
Kemudian, melalui pendekatan konvergen, Wright mempersempit pilihan-pilihannya dan mulai menyatukan ide-ide tersebut. Ia menerapkan konsep kantilever untuk membuat teras yang seolah melayang di atas air terjun, menggunakan material lokal seperti batu dan beton, serta memaksimalkan kaca untuk menciptakan hubungan visual antara ruang dalam dan luar. Dengan cara ini, Fallingwater terwujud sebagai hasil dari proses yang menyaring dan memfokuskan ide-ide beragam menjadi sebuah desain yang inovatif dan harmonis. Pemikiran divergen membuka ruang bagi eksplorasi yang luas, sementara pemikiran konvergen mengarahkan semua ide itu menjadi satu kesatuan yang terintegrasi dengan lingkungan alamnya.