image.png

Indahnya bangun siang diawal weekend, baru saja ku lihat matahari yang sudah setinggi mata tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan mengenai lagu dari Amigdala yaitu “Kukira Kau Rumah”. Sebuah hal random yang rutinan terjadi bila tugas kuliah selesai di tengah pekan. Sebenarnya masih ada revisi dari asisten dosen, tetapi hal itu juga yang membuatku berpikir tentang hal ini, yaitu sebuah ekspektasi. Sungguh kolerasi yang diluar nalar.

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan lagu “Kukira Kau Rumah”, lagu dengan mood galau yang biasanya diputar khalayak muda, khususnya disaat mereka galau karena pasangannya mungkin sudah mengecewakan dan tidak sesuai dengan ekspektasi batin dari pacarnya tersebut. Ada beberapa kalangan juga yang memang menikmati lagu seperti ini tetapi tidak sedang galau.

Dimulai dari sebuah ekspektasi, ini juga ada hubungannya dengan tugasku pekan ini direvisi. Sudah sewajarnya kegundahan terjadi sebagai mahasiswa baru jurusan Arsitektur mengeluhkan tentang revisi tugas. Berangkat dari ekspektasi untuk konsultasi tugas dengan asisten dosen berharap tugas akan selesai, tapi ternyata ada perbaikan. Mungkin pertanyaannya adalah, Apa hubungan dari lagu “Kukira Kau Rumah” dengan asistensi tugas? ****Benang merah yang aku temukan disini adalah sebuah ekspektasi yang muncul dari kedua hal tersebut. Disini aku tidak akan membahas tentang tugasku, karena tidak akan selesai jika aku bahas disini, lebih baik aku kerjakan revisi-nya saja.

Dari pertama kali mendengar lagu dari Amigdala tersebut sebenarnya aku sudah tidak setuju dengan konsep yang diusung menjadikan rumah itu sebuah hal yang merepresentatifkan ekspektasi kita terhadap seseorang. Tetapi hal ini tetap masuk akal jika secara filosofis bahwa pasangan dianggap sebuah “rumah”, karena secara pengertian sendiri rumah memiliki arti, yaitu suatu kebutuhan sebagai tempat tinggal untuk berlindung dari cuaca luar dan tempat berkumpulnya suatu keluarga. tempat istirahat dan melakukan kegiatan sehari-hari. Mungkin dari pengertian ini sangat masuk akal bila seorang pasangan disebut “rumah”. Secara simbolis, seorang pasangan adalah sosok yang membuat kita merasa nyaman, sebagai sosok pelindung, tempat bercerita dan bersenang-senang. Dari hal ini kita seolah-olah mengandaikan sebuah lingkungan dari sesuatu yang kita anggap sebagai “rumah” bagi kita, karena sejatinya sebuah rumah berdiri di sebuah lingkungan. Bila dijabarkan secara filosofis, mungkin dari pengertian seorang pasangan dianggap sebagai “rumah”, lingkungan dari rumah tersebut bisa dikatakan sebuah faktor yang bisa membuat “rumah” tersebut bisa lahir, hal ini seperti aktivitas, pengalaman, dan ekspektasi kita terhadap pasangan itu sendiri. Secara hakikat saja yang membuat rumah bisa terbuat atau dibangun adalah lingkungan, kita berekspektasi baik terhadap lingkungan tersebut untuk rumah itu bisa berdiri.

image.png

Disini aku tidak mau memaksakan dari konsep bahwa sebenarnya filosofis sebuah lingkungan adalah hal yang menyebabkan ekspektasi itu muncul. Tidak ada tolak ukur pasti seseorang bisa dianggap sebuah “rumah”, karena disini faktor yang terjadi bisa berupa output yang bermacam-macam, tidak ada suatu batasan yang jelas bahwa sosok “rumah” bisa lahir dalam seseorang. Dari analogi yang aku jabarkan itu hanyalah realitas yang terjadi bahwa lingkungan sangat menunjang bisa terciptanya sebuah rumah.

Hal yang mungkin menjadi rancu dari filosofis rumah itu sendiri adalah rumah merupakan kebutuhan primer dan identitas dari pemilik rumah tersebut. Mungkin ini juga merupakan sebuah problem yang sering terjadi pada kalangan muda, terutama mahasiswa seperti aku sendiri. Masa dimana kita mencari jati diri kita ditengah dunia yang penuh distraksi. Sebuah fenomena identity crisis yang sudah sewajarnya kita sadar bahwa hal yang harus kita hadapi dengan penuh dengan kesadaran diri. Aku sengaja mengangkat tema “rumah” dalam ini karena secara spiritual menurutku bahwa kita tidak seharusnya menggantungkan ekspektasi kita terhadap seseorang dan mungkin menganggap seorang sebuah “rumah” itu suatu hal yang yang mungkin tidak seharusnya, karena sejatinya rumah adalah kebutuhan primer dari sebuah individu/keluarga untuk tinggal. Disini pertanyaannya adalah “Apakah sudah layak bahwa kita menganggap seseorang yang kita anggap rumah ****itu sebagai tempat tinggal?”. Mungkin aku lebih setuju dengan pernyataan bahwa anggapan “Teman sudah seperti keluarga”, karena keluarga merupakan interaksi sosial dari hubungan antara dua individua atau lebih dengan saling berinteraksi satu sama lain, memiliki peran masing-masing, menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Tetapi apakah sudah saatnya kita menganggap bahwa pasangan itu menjadi sebuah keluarga?

Secara realitas saja, menurutku sudah tidak seharusnya kita menggantungkan sebuah ekspektasi terhadap seseorang dimasa seperti ini, masa dimana dunia penuh dengan ketidak pastian. Menentukan mau melakukan untuk besok mau melakukan apa saja dari pagi sampai malam saja terkadang kita tidak tahu, begitu mau menggantungkan ekspektasi kita terhadap seseorang yang mungkin saja sama dengan kita ketidak pastian dirinya? Itu yang bisa dianggap rumah?

Kewajaran dan batasan dalam berekspektasi, atau mungkin tidak berekspektasi(?) dalam hal apapun mungkin jalan yang tepat yang bisa dihadapi ditengah hingar bingar identity crisis dimasa seperti ini. Aku tidak bermaksud menggurui, aku juga sedang ada dimasa mempertanyakan segala hal yang ada di depan mata. Sudah sewajarnya kita harus tetap mampu survive sebagai individu yang berakal sehat dan memiliki pemahaman spiritual terhadap diri kita sendiri agar bisa hidup sepenuhnya dimasa muda seperti sekarang.

Satu hal berharga yang aku peroleh dari beberapa bulan hidup di asrama adalah dari sebuah absen. Mungkin saja kita bisa menitip absen dari teman kita dalam suatu kegiatan, tetapi hal itu tidaklah wajar bila terjadi ketergantungan dalam hal tersebut, akan muncul rasa keraguan dan lalai dari diri kita bila teman kita tidak bisa mengabsenkan kita terhadap suatu aktivitas yang berkaitan. Kita dituntut agar selalu bisa me-maintain diri kita sendiri.

Tujuan tulisan ini dibuat tidak untuk menyalahkan fenomena sosial yang terjadi seperti yang sudah dibahas, karena faktor yang terjadi pun tidak karena satu atau dua hal saja. Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan sebuah ulasan atau kritik dan juga sebagai pengingat agar kita tetap sadar dan juga tetap bertukar pikiran terhadap hal yang cukup fatal dalam lingkungan sosial yang ada di sekitar kita seperti fenomena identity crisis. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita tidak boleh begitu menggantungkan atau berekspektasi terhadap seseorang, kita harus bisa hidup sepenuhnya dengan potensi dan akal yang kita miliki.

Sekian dari saya, semangat semua kuliahnya yang sedang kuliah, semangat juga yang sedang bekerja semoga selalu diberi keberkahan, juga yang sedang tidak ngapa-ngapain semoga diberi kesibukan yang lebih bermanfaat. Sehat selalu semuanya.