image.png

Aku duduk di kursi beton di taman saat sore hari, memandang orang sedang jogging sambil mendengarkan lagu lewat earphone*-*nya, aku pikir orang itu punya selera musik yang berbeda denganku. Gemuruh kendaraan seakan-akan menjadi backsound dari ceritaku sore ini. Mencari arti hidup di kota orang, terkadang pilu dan terkadang juga sendu.

Tak ada yang kuingat selain cucian di rumah yang sudah menumpuk selama dua minggu, sering kali aku juga disadarkan untuk membasuh luka daripada mengabaikannya. Sudah akhir bulan, tak ada yang lebih menyenangkan untuk mengapresiasi diri sendiri. Segelas es kopyor mungkin sudah cukup untuk melupakan lara. Mungkin terkadang diriku juga lupa manis akan terasa setelah pahit menerpa.

Di rumah masih ada lauk tahu goreng yang sudah dua hari lupa aku makan, entah sudah basi atau belum. Tapi aku tak peduli, terkadang juga aku tak perlu memikirkan perasaanku sendiri untuk bisa menikmati hidup. Terkadang juga arti lara adalah sebuah tawa. Aku tahu akhir bulan memang sangat pelik, tapi apa boleh buat hidup harus terus berjalan. Ibarat berjalan diatas duri, akan lebih menyakitkan kalau berdiam untuk meratapi kesedihan dibanding untuk lari sekencang-kencangnya untuk mencari sebuah jawaban.

Malam begitu cepat tiba, aku tahu esok akan sama ceritanya. Aku takut untuk berjanji untuk menjadi lebih baik, karena aku hanya manusia yang selalu akansalah dan apa adanya. Mungkin cerita ini sangat singkat, tapi untuk apa untuk selalu meratapinya. Fajar akan tetap ada, begitu juga tukang sayur akan selalu ada di setiap harinya. Namun ada kala semuanya akan hilang adanya, dimana saat semua berhenti untuk mencoba.