image.png

Kemajuan teknologi sangatlah pesat saat ini, penggunaan media sosial sangatlah menunjang kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Segala jenis informasi mulai dari ujung barat sampai timur dunia bisa di akses melalui sosial media. Siapa sih yang gak punya sosial media di zaman seperti sekarang?

Mungkin beberapa bulan ini aku baru munggunakan Instagram lagi untuk membuat twibbon dan membuat beberapa post di IG, agar terlihat hidup. Akhirnya juga kembali hiatus.

Semua berawal dari patah hati saat masa SMA membuatku memutuskan untuk tidak bermain sosial media untuk sementara waktu, tetapi lama kelamaan aku menemukan sebuah “ketenangan” karena hal tersebut.

Hidup tanpa scrolling adalah suatu kenikmatan tersendiri.

Mungkin rata-rata 95% kolega kita aktif pada media sosial, mungkin menjadi orang yang tidak memiliki akun media sosial di era digital yang sangat maju seperti ini terlihat aneh, sangat aneh. Aktivitas sehari-hari, karya seni, musik, pemikiran, dan interaksi para kolega biasanya kita bisa lihat melalui sosial media. Tak heran mengapa kita terkadang “bisa tahu tanpa harus ingin tahu”.

Menjadi orang yang tidak memiliki akun media sosial mainstream seperti Facebook, Twitter, dan Instagram mungkin terlihat sulit. Tidak bisa tahu tentang informasi terbaru dengan sangat cepat, tidak tahu tren yang sedang panas, dan mungkin tidak tahu tentang apa yang kolega kita lakukan.

Apakah itu hal buruk? Menurutku itu tidak. Contoh saja, Instagram story yang kita lihat setiap harinya mungkin hanya 1/10 saja yang kita peduli, sisanya mungkin seperti angin lewat. Memang tidak ada larangan kita dalam membuat post atau story Instagram tentang apa yang kita lakukan, perasaan kita saat itu, musik yang kita suka, dan lain-lain. Aku tidak mengatakan bahwa mereka yang membuat konten dengan bagus di Instagram itu tidak ada gunanya, aku terkadang kagum terhadap beberapa sosok yang besar dan sukses di media sosial. Mungin yang perlu dipertanyakan adalah, membuat post hanya untuk impresi orang lain tanpa mempertimbangkan konteks mengapa kita ingin membuat konten tersebut apakah worth it?

Aku sendiri tidak mengatakan bahwa aku tidak menggunakan internet bahkan media sosial sama sekali, dulu bahkan aku sangat aktif pada media sosial mainstream tersebut. Contoh saja aku menulis artikel ini pada platform Medium, entah ini terhitung media sosial atau tidak. Aku juga masih menggunakan WhatsApp dan Telegram sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Sering kali juga aku membuat story karena aku ingin saja, aku juga tidak peduli apa yang orang pikirkan terhadap apa yang aku kirim. Aku tidak akan menukarkan kesenanganku sendiri demi impresi orang lain. Tetapi tidak dengan mentah-mentah.

Membuat personal branding jugalah penting dalam bersosial media, apalagi jika kita menyediakan sebuah jasa atau memiliki usaha yang berkembang dalam sosial media. Aku bahkan sangat salut kepada mereka yang memiliki usaha kecil sampai besar yang berkembang di sosial media. Aku paham bahwa mengembangkan sebuah portfolio atau lapak di sosial media bukanlah perkara mudah, butuh keahlian khusus dalam mengelola hal tersebut. Mungkin alasan lain dariku mengapa tidak menggunakan media sosial saat ini mungkin masih belum menemukan hal yang lebih berguna untuk berlayar di media sosial mainstream saat ini.

image.png

Salah satu ironi dalam gencarnya media sosial saat ini adalah para “Attention seekers” atau bahasa gampangnya adalah orang caper. Orang cari perhatian atau caper di internet adalah contoh kemunduran sosialita dalam era digital yang sangat pesat saat ini. Manusia dianugerahi lima panca indera, tetapi mengapa mencari perhatian di internet. Memang tidak ada larangan dalam mencari perhatian di internet, tetapi caper di internet hanyalah membuatmu bodoh.

Mungkin orang caper di internet apabila dibandingkan dengan orang membuat post apa yang ingin mereka kirim itu tidak ada bedanya secara garis besar. Tetapi, perbedaannya adalah secara psikologi dan mental dari pelakunya. Aku bukanlah ahli psikologi atau cenayang untuk bisa tahu pikiran orang lain, tetapi begini… orang yang hanya ingin membuat post mungkin saja tidak begitu mementingkan apa yang orang lain pikirkan terhadap apa yang mereka posting, tetapi orang caper sangatlah bergantung dan mungkin haus akan impresi terhadap orang lain. Akan terlihat sangat lucu juga sangat sedih jika ada orang caper di internet tetapi tidak ada satu pun yang peduli.

Akan lebih parah lagi jika berniat caper terhadap seseorang, tetapi orang tersebut tidak peduli atau bahkan tidak tahu tentang eksistensi hal tersebut, sangat mengenaskan. Inilah salah satu sisi negatif dari akses internet yang bebas, bahkan sangat bebas sampai kita lupa dari esensi mudahnya kita berkomunikasi dengan antar individu atau kelompok di internet.

image.png

Oke, mungkin ada beberapa orang yang tidak bisa straight forward terhadap apa yang ingin mereka katakan. Mungkin juga ada orang yang merasa tidak nyaman terhadap apa yang ingin mereka sampaikan terhadap orang lain. Sebenarnya itu adalah contoh dari efek negatif dari penggunaan internet. Secara tidak langsung, kita berada di internet dengan orang banyak… itu membuat kita lebih mempedulikan apa yang orang lain pikirkan daripada apa yang ingin kita sampaikan. Ya, mungkin memang secara jelas mengutarakan hal yang personal di internet bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Siapa yang suruh memang menggunakan media sosial untuk mengutarakan hal yang personal? Kita dianugerahi lima indera untuk digunakan.

Hal yang paling aku benci di internet, terutama di TikTok… adalah konten yang meng-influence para penggunanya untuk berbuat atau melakukan hal-hal konyol dan hal tidak penting yang pernah ada di dunia. Oke, kalau tidak merugikan orang lain mungkin tidak apa-apa, aku juga tidak peduli. Tetapi jika sebaliknya, aku kehabisan kata-kata untuk mengatakan betapa bencinya aku terhadap aplikasi TikTok. Mungkin jika aku diberi satu permintaan yang akan dikabulkan saat itu juga, aku akan memilih untuk membakar hangus server TikTok diseluruh penjuru dunia.

Aku tahu mungkin ada beberapa orang yang hidup dari pemghasilan dari TikTok, berkembang disana, dan sebenarnya banyak konten-konten yang bagus. Tetapi ironinya adalah, semakin bodoh kontennya maka akan semakin tersebar luas konten tersebut… itu seakan-akan kita mendukung sebuah kemunduran dalam kehidupan sosial. Aku tidak membicarakan konten-konten lucu yang terlihat bodoh, tetapi konten-konten bodoh yang akan ditiru oleh bocah-bocah dibawah umur yang baru saja menjajakkan kakinya di internet dan mengira hal yang sedang tren adalah sesuatu yang keren untuk dilakukan. Sangat menyedihkan betapa bebasnya akses itu mereka dapatkan jika tidak ada pengawasan dari orang tua yang lebih mengerti.

Ketika orang lain menggunakan internet untuk kebebasan berpendapat, tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa mengutarakannya karena mempedulikan impresi orang lain. Mereka seperti membuat penjaranya sendiri, sungguh sebuah ironi.

Tidak menyentuh sosial media justru membuatku lebih jujur secara mental dan pikiran, entah mengapa. Mungkin ada riset di luar sana tentang hal ini. Tetapi ilustrasi mudahnya adalah apabila kita terlalu lama di dalam goa, kita akan lebih mudah dalam berkomunikasi dengan diri kita sendiri.