
Kebisingan jalan di sore hari, keramaian suara-suara ditengah kota membuatku merasa terisolasi. Tiap mobil yang berjalan kearahku dan tiap langkah kaki orang berjalan terasa sangat jelas, tetapi realita terasa sangat asing saat itu.
Suara kebisingan itu perlahan teredam oleh pikiranku. Hembusan angin terasa lebih menusuk — mataku mulai terdistraksi. Daun-daun itu bergerak ke kanan dan ke kiri, awan-awan itu perlahan bergerak menjauh karena ditiup oleh angin… bukan sebuah delusi, banyak gambar yang terlintas dalam benakku, aku hanya terlalu banyak membayangkan hal yang kemungkinan terjadi kalau aku tidak sendiri.
Jam makan siang hanyalah brief dari kesendirianku hari itu. Sudah terlalu lama sepi suasana makanku disetiap harinya, aku sudah tidak merasa kesepian lagi. Makan di warung sederhana, 2 lantai — seperti biasanya, pemandangan dari atas adalah obat dari kesendirianku. Aku lewati para pengunjung menuju ke kasir untuk memesan makanan, sepertinya seru sekali makan bersama seseorang yang bisa aku ajak bercerita — bagaimana hariku, bagaimana perasaanku, mungkin bagaimana harinya juga, bagaimana juga perasaannya saat itu… tapi itu hanya angan-anganku saat menunggu pesananku, lalapan tahu tempe goreng dan juga es jeruk.
Pikiranku hanya terpaku pada awan yang mirip sebuah bentuk, tetapi aku tidak bisa mengatakan itu berbentuk seperti apa, perlahan awan itu bergerak menjauh — perlahan melewati gedung kampus tinggi yang aku lihat dari kejauhan. Sungguh tidak asing lagi rasanya seperti ini. Lirik demi lirik dari semua lagu yang pernah aku dengar terlintas dalam telingaku… menggambarkan kesendirianku yang sudah mulai basi.
Dari atap warung, aku lihat ada sepasang laki-laki dan perempuan, sepertinya mereka berpacaran. Saling bertatapan satu sama lain menunjukkan kasih sayang satu sama lain, senyum tipis dari sang perempuan membuat laki-laki itu merasa gemas dan memegang pipi pacarnya itu yang terlihat sangat lembut. Suasana yang sangat hangat, tetapi makin membuat hatiku dingin. Mungkin mataku tidak buta, tetapi hatiku lah yang telah buta.
“The beauty that always kills.”… mungkin itulah kalimat yang tepat menggambarkan suasana hatiku, entah mengapa aku selalu menyalahkan diriku sendiri terhadap hal yang tidak pernah terjadi. Aku selalu menganggap bahwa tidak pernah seindah itu, semua hanyalah distraksi. Sebuah kesederhanaan yang selama ini aku alami sudah cukup untuk menemani kesendirianku — kesepian di tengah bisingnya kota. Terlalu indah untuk pernah kualami, terlalu indah untuk diriku tau rasanya bagaimana merasakan perasaan seperti itu.
Aku sudah seperti batu yang diberi nyawa, mungkin aku belum paham bagaimana rasanya hangatan dari sebuah pelukan — hangatnya sebuah genggaman yang berasa sangat menghanyutkan. Kepalan tangan penuh kasih sayang, hangatnya senyum tipis dan juga refleksiku pada matanya, terkias penuh makna… bersandar ditengah dinginnya hati — menjadi hangat karena ada bersamanya. Bagaimana rasanya? mungkin aku tidak pernah tahu atau mungkin aku sudah lupa.
Hingar bingar kemacetan disore hari membuatku kembali bertanya-tanya tentang kehidupan. Kilometer demi kilometer aku lalui tetapi tidak satupun pertanyaan berhasil aku lalui jawabannya. Sungguh seperti berlari dalam sebuah lingkaran. Bisa dikatakan kalau aku adalah orang yang tidak mudah overthinking, aku lebih mudah merasa tidak peduli terhadap hal yang tidak berpengaruh padaku. Tetapi, aku lebih cenderung terlalu bertanya dan memutar isi kepalaku sendiri.
Tidak terasa hari sudah mulai gelap, pemandangan senja menjelang maghrib terlukis indah bersama siluet gunung itu… terlihat sangat indah — tentunya tidak seperti senyuman seseorang. Langit terlalu baik untuk bisa menyakitiku, awan-awan itu selalu memberiku harapan disetiap harinya… memberiku petunjuk untuk kemana akan melangkah.
Kasur kamarku sudah memanggilku, kasur yang sangat dingin karena sudah aku tinggal dari pagi. Kenyamanan yang tidak ada duanya, tidak seperti kenyamanan dari seseorang yang bisa memberiku kehangatan. Pada akhirnya aku hanyalah manusia yang berdiri pada kakiku sendiri.
Mungkin benar kalau aku seperti batu yang diberi nyawa.
Layaknya batu yang tidak pernah tersentuh, dingin.
Tak buta mata, namun buta hati.
Tidak dibutakan, tetapi membatu.
Aku tahu kalau aku tidak bisa selamanya sendiri. Pada akhirnya batu akan hancur.
Tapi siapa yang akan menghancurkannya?