
Ada sebuah kerajaan megah di tengah gurun pasir, tak terkalahkan dan begitu agungnya. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang tangguh, ia bernama Chrono. Raja Chrono merupakan ksatria yang sangat kuat pada saat muda, dia memiliki sebuah kekuatan yang tak dimiliki oleh siapapun di muka bumi, yaitu kekuatan untuk membaca gerakan lawan. Tak heran dia selalu menang dalam pertempuran, Raja Chrono telah mengetahui langkah yang akan diambil oleh lawannya.
Pada saat era Raja Chrono menjadi raja, memang saat itu tidak ada banyak peperangan. Bangsa-bangsa sudah memulai aliansi dimana-mana, namun kerajaan negeri pasir tidak memiliki aliansi. Seluruh hamparan pasir, pulau, oasis, dan juga sungai menjadi titik kekuasaan kerajaan yang dipimpin Raja Chrono. Memang sekuat itu pertahanan dari kerajaan negeri pasir. Seakan-akan benteng yang abadi, namun apa yang akan meruntuhkannya? waktu?
Bukan Raja Chrono tidak mau melakukan aliansi dengan bangsa-bangsa lain, namun ia selalu membaca pikiran para diplomasi-diplomasi itu yang memiliki pikiran jahat. Raja Chrono merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyatnya, ia tidak mau menyesal karena telah mencelakakan rakyatnya yang tidak memiliki dosa itu. Puluhan tahun Raja Chrono menjadi raja, tidak ada yang bisa menandinginya, seakan-akan dia bukan hanya sekadar raja, namun seperti tuhan. Mengetahui awal dan sebuah akhir, itulah Raja Chrono. Seperti menjelajahi koridor waktu, dia membaca segala kemungkinan yang ada di hadapannya. Sungguh menakjubkan.
Raja Chrono tidak memiliki ratu ataupun istri, bahkan siapapun yang ia sayangi. Kekuatannya dalam membaca pikiran sudah seperti pisau bermata dua, dia membaca pikiran dari semua orang yang mencoba ia dekati dan mendekatinya. Dia tidak suka kalau akan dimanfaatkan saja. Mungkin terlihat seperti seorang pesimis, namun tak dapat dipungkiri — siapa yang tak mau menjadi istri dari raja terkuat di dunia?
Usianya sudah menginjak tua, namun Raja Chrono masih saja tak terkalahkan. Pada suatu hari dia berkunjung ke rumah seorang pendeta di tepian desa. Sebelumnya memang Raja Chrono jarang berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya, setiap harinya dia hanya bertapa di taman kerajaan dan melakukan peperangan.
Dia sangat kaget saat melihat pendeta itu, dia sampai-sampai tidak bisa berkata-kata saat menatap mata pendeta itu untuk pertama kalinya, setelah mengalahkan ribuan peperangan.
“Sudahkah kamu merasakan kedamaian abadi?”, ucap pendeta.
Raja Chrono tidak bisa mengatakan sepatah kata saat itu.
“Aku tahu yang mulia pergi kesini datang untuk mencari jawaban, apakah benar”, sambung pendeta.
“Hmm”, jawab Raja Chrono.
“Hal apa yang membuat yang mulia jauh-jauh pergi kesini? Apakah kita perlu mengobrol untuk mendiskusikan hal ini?”, tanya pendeta.
“Mungkin aku sudah menemukan jawabannya, terima kasih”, ucap Raja Chrono dan langsung meninggalkan tempat itu.
Raja Chrono merasakan suatu keanehan disaat dia melihat pendeta itu, dia tidak bisa membaca apa-apa dari pikiran sang pendeta. Seolah-olah dia yang merasakan kegelisahan. Dia merasa seperti hilang arah karena tidak bisa melihat apa-apa. Sebenarnya apa yang Raja Chrono cari?
Keesokan harinya, dia memutuskan untuk berkelana di sebuah gunung di entah berantah. Raja Chrono merasa jawaban hidupnya ada di sana. Pada saat perjalanan mendaki dia mengingat-ingat semua perjalannya mulai menjadi seorang ksatria muda dan pada akhirnya menjadi raja terkuat di bumi. Memang tidak mudah, tetapi ia memang tak terkalahkan.
Hari demi hari ia lalui dalam perjalanannya berkelana. Dia mempertanyakan segalanya, apa tujuan hidupnya, apa yang ia cari, kapan dia akan mati. Dia sampai-sampai mencoba segala cara untuk membuktikan bahwa dia memiliki kekurangan dalam dirinya, disaat dia melihat pendeta itu ia merasa ada sebuah gejolak dalam dirinya kalau ada satu hal yang akhirnya akan membuat dirinya kalah.
Raja Chrono sudah mencapai puncak gunung itu, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Hamparan gurun yang luas, dia melihat juga kerajaannya yang megah itu dari kejauhan — kerajaan agung yang yang tak terkalahkan. Dia di puncak gunung itu hanya berandai-andai untuk apa dirinya ada. Dia hidup tanpa siapa-siapa, hanya ada harta dan tahta yang ia punya.
Namun kali ini dia merasa lebih tenang, mungkin dia menemukan apa yang ia cari. Tetapi dia masih saja bingung untuk apa dia ada, selama ini peperangan hanyalah hal yang sangat berarti baginya, dia sangat mahir dalam hal itu. Raja Chrono merasa perjalannya untuk berkelana sudah selesai, dia memutuskan untuk pulang.
Disaat dia pulang, ia melihat seekor ular didepannya. Dia merasa bahwa ular itu merasa ketakutan, padahal ular itu bisa saja membunuh Raja Chrono saat itu juga. Namun hal yang tak terduga terjadi, tiba-tiba ada seekor elang menyambar dengat cepat mencengkram ulalr itu dan dibawanya terbang. Raja Chrono begitu takjub melihat hal itu, ratusan nyawa telah hilang ditangannya, namun ia terkesima dengan alam yang penuh dengan teka-teki itu.
“Kenapa aku baru menyadari hal ini, banyak sekali hal yang tak kulihat di sekitarku. Mungkin aku terlalu memikirkan diriku sendiri,” ucap Raja Chrono sambil melihat ke langit.