
Dinginnya Kota Malang di bulan Desember diselimuti hujan disetiap harinya. Dengan tujuan awal ingin pergi ke perpustakaan kampus tetapi terlambat karena dilanda macet akhir tahun dan diterpa hujan. Karena tidak ada tujuan lagi dan tidak ada teman juga, akhirnya langsung pulang saja.
Bayangannya tidak ada yang senyaman hawa Kota Malang dikala hujan tiba, tetapi kenyataannya hujan dicampur angin bukanlah suatu hal yang bisa dinikmati. Ada beberapa orang yang mungkin menganggap itu aesthetic, mungkin mereka kebanyakan menonton scene dari film/series romansa dimana pemeran utamanya menyatakan cintanya di pinggir jalan dan sang kekasih menangis bahagia karena itu adalah momen terindah yang tidak pernah pernah terlupakan.
Tidak… mungkin kalau di Malang pasangan itu sudah kena cipratan air dari mobil Honda Jazz Putih yang ngebut dijalan saat hujan karena mobilnya habis dicuci. Tidak ada sepatah katapun terucap di sepanjang perjalanan kecuali ucapan umpatan disertai istighfar karena ulah para pemudi yang bermacam-macam jenisnya.
Selalu ada hal yang akan mendistraksi pikiran kita saat ada di jalan. Bayangan yang terbesit pertama kali dalam pikiran saat hujan entah mengapa selalu ada hubunganya dengan cita-cita dan cinta. Tetapi selalu saja tidak ada jawabannya, akan selalu berputar pada angan-angan dan pertanyaan yang itu-itu saja.
Derasnya kali mendistraksiku dari angan-angan tadi dan membuatku berpikir bahwa hidup itu seperti air. Aku jadi teringat film Kung Fu Panda 2 yaitu saat Master Shifu mempraktekkan *skill-*nya dalam mengendalikan tetesan air. Mungkin akan keren sekali jika pasangan yang ada di pinggir jalan tadi bisa mengandalikan air cipratan dari mobil Honda Jazz yang ngebut tadi kembali ke mobilnya.
Tetapi intinya bukan itu…

Aku bukan seorang filsuf, ahli psikologi, atau bahkan seorang yang sudah menguasai segala emosi dalam diriku sendiri. Terkadang saja aku marah tidak jelas karena lupa pensilku ada dimana yang ternyata ada di saku baju sendiri.
Sangatlah sulit, bahkan tidak ada jawaban yang benar untuk bagaimana kita seharusnya menjalani hidup. Mungkin jawaban yang akan dikatakan ibuku jika aku bertanya tentang hal ini adalah dengan cara selalu bersyukur.
Pada filmnya, Po pernah bertanya kepada Master Shifu semacam “Your real strength comes from being the best you you can be. So, who are you?”.
Kita tahu bahwa akhirnya Po bisa mengendalikan teknik yang dipraktekkan oleh Master Shifu. Tetapi, itu bukan kesimpulannya bahwa dia menang melawan Shen. Dari segala hal yang telah ia alami selama ini, mulai dari ia tau bahwa Shen lah yang telah menyebabkan ia ditinggal kedua orangtuanya dan sadar bahwa Mr. Ping bukan ayah kandungnya.
Po tidak membiarkan rasa takut dan perasaan sedihnya mengambil alih “pikirannya”, dia berhasil mengendalikan emosinya dan berhasil mencapai kedamaian batin dalam dirinya sendiri.
Hal yang sangat aku kagumi dari seorang karakter Po adalah dia berhasil menjadi dirinya sendiri dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sedikit flashback, pada sequel pertamanya pada saat Po membuka gulungan Pendekar Naga yang ternyata isinya hanyalah lembaran emas reflektif dan yang terlihat hanyalah pantulan dirinya di dalam gulungan itu.
Itu adalah inti cerita dari Kung Fu Panda.
Pada film terakhirnya, Po akhirnya berhasil menjadi Pendekar Naga sesungguhnya, tetapi apa yang membuatnya sangat spesial? Pendekar Naga yang dia bayangkan adalah dirinya sendiri selama ini. Bagaimana bisa?

Perjalanannya selama ini mulai dari dia berhasil menjadi dirinya sendiri, bertarung dengan caranya sendiri yang unik tidak seperti murid-murid yang lain, itulah yang membuat Po spesial. Selanjutnya dia berhasil mengontrol emosinya dan mengalahkan rasa takutnya dan mencapai kedamaian batin. Lalu, pada akhirnya berhasil menjadi Pendekar Naga yang sesungguhnya. Seperti pada ending pada filmnya yang pertama, atribut yang ia kenakan sama. Dia menjadi Pendekar Naga seperti apa yang dia bayangkan. Menjadi diri sendiri yang sejati.

Tetapi apa hubungan ini semua dengan “hidup seperti air”? Apa relasinya air kali yang deras dengan karakter Po di film Kung Fu Panda? Hubungannya adalah yaitu sifat air itu sendiri. Mungkin akan terdengar sangat klise dari kata “Go with the flow”, tetapi hal yang penting adalah bukan menjadi “air” melainkan menjadi diri sendiri.