
Tak ada yang lebih indah dari menikmati kesendirian di malam natal yang sepi, ditemani sebotol air putih dan diiringi lagu pop-punk hasil *shuffle playlist-*ku yang mayoritas adalah lagu-lagu band indo lawas — terutama Dewa 19. Sempat terpikir apa hubungannya “Dewa” dengan angka 19.
“I Miss You”, itulah lagu pertama yang muncul setelah lagu di *playlist-*ku habis, lagu yang dibawakan oleh grup blink-182. Entah kenapa terpikirkan juga kenapa memilih angka 182 sebagai nama band-nya. Aku mencoba mendalami lirik lagu ini, rasanya aku mungkin juga merindukan seseorang — tepat pada tanggal ini terdapat sekilas memori, tetapi entah apa yang telah aku alami waktu itu, tetapi rasanya seperti sesuatu yang sangat membekas. Sebuah kegelisahan yang tidak tahu asalnya darimana dan kenapa.
I miss you, I miss you I miss you, I miss you Where are you? And I’m so sorry I cannot sleep, I cannot dream tonight I need somebody and always This sick, strange darkness Comes creeping on, so haunting every time And as I stare, I counted The webs from all the spiders Catching things and eating their insides Like indecision to call you And hear your voice of treason Will you come home and stop this pain tonight? Stop this pain tonight Don’t waste your time on me, you’re already The voice inside my head (I miss you, I miss you) Don’t waste your time on me, you’re already The voice inside my head (I miss you, I miss you)
Terbayang tiap emosi yang menciptakannya dan kata yang memaknainya. Mungkin bukan tentang siapa, tapi sebuah arti yang telah membawanya.
Melihat keramaian video tren rekap akhir tahun di internet membuatku sedikit menertawakan diri sendiri karena tidak sempat membuat banyak momen yang berarti untuk diabadikan. Tetapi sebenarnya aku juga tidak pernah mencoba untuk mengabadikan momen-momen itu. Cukup disayangkan memang tidak ada sebuah eksistensi dari momen-monen itu pernah terjadi. Tetapi memang untuk apa juga, siapa yang akan peduli? Aku sudah sangat bersyukur bagaimana momen-momen itu pernah terjadi — terkenang di dalam diriku tiap detail yang ada waktu itu.
Rasanya sekarang sudah tidak ada artinya, semua itu hanyalah fana yang membelenggu pada diriku sendiri. Mungkin tidak ada satu hal yang berharga untuk dipertahankan sampai sekarang. Seolah-olah hanya bayangan-bayangan yang membuat diriku buta. Aku mungkin masih sempat untuk meminta maaf padamu. Tetapi, aku masih belum bisa membalas budi dan mengungkapkan betapa rasa terima kasihku terhadap angin darimu yang telah membuatku sampai disini sekarang. Mungkin sudah tidak ada waktu ataupun tidak ada kesempatan lagi, bahkan untuk bertanya bagaimana kabarmu — ataupun menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari itu.
Suasana sore kota yang habis diguyur hujan mungkin tak ada duanya, diselimuti kabut, dan dilengkapi suasana macet liburan akhir tahun. Berkeliling kota tanpa tujuan bukanlah suatu pilihan yang tepat disaat ini, tetapi rasanya sangat syahdu untuk bergumam di sepanjang jalan sambil menikmati klakson kanan kiri. Tak ada yang spesial hari ini, hanya makan malamku yang mungkin spesial — nasi goreng tambah telur ceplok. Aku memang tidak punya banyak opsi disaat makan di luar rumah, nasi goreng biasanya menjadi pilihan pertama.

Malam yang cukup melankolia, sedikit alunan musik reggae yang baru saja aku temukan — cukup enak. Pikiranku berputar terhadap siapa yang akan jadi yang spesial atau tak akan ada yang spesial? Mana yang nyata dan mana yang nyata. Hatiku yang bimbang dihadapkan hal seperti ini seolah-olah sebuah roller coaster emosi yang membuatku berpikir berkali-kali — mengapa harus sekarang? Melihat kembali *diary-*ku sebagai refleksi diri. Sebenarnya mauku apa?
Hari libur tidak menghalangi untuk menghantui pikiranku atas tanggung jawabku terhadap semua hal yang ada di depanku. Aku ingin sedikit lari dari kenyataan, tapi realitasnya saja aku masih berlari diatas kenyataan yang ada. Mungkin sudah saatnya mengesampingkan perasaan dan memprioritaskan kenyataan. Tahun baru yang artinya bertambah tua, mungkin sudah seharusnya aku lebih memikirkan apa yang ada di tanganku dan apapun yang ada di sekitarku.
Hari ini tidak hujan, mungkin belum saatnya hujan. Semalam aku tidak bisa tidur, entah apa yang aku pikirkan — seperti terlalu banyak hal yang tidak bisa aku kompresikan menjadi sebuah kalimat untuk menjelaskan semuanya. Mungkin aku perlu sedikit istirahat.
Hari ini tidak ada yang spesial — sama seperti hari-hari yang biasanya juga sih. Aku bangun tidur jam 8 pagi, sedikit agak pusing. Semalam rasanya aku mimpi berjumpa dengan seseorang tapi entah siapa, dari latar tempatnya seperti ada di alun-alun kota — aku bingung kenapa tiba-tiba ada di alun-alun kota padahal aku jarang kesana. Tapi rasanya mimpi-mimpiku yang aneh seperti ini biasanya terdapat clue tersembunyi yang ingin disampaikan.
Aku masih bingung entah mau kemana untuk merayakan malam tahun baru nanti. Sebenarnya aku juga bukan orang yang FOMO, tak masalah bagiku jika aku tidur saja saat malam tahun baru. Sejujurnya aku tidak mau melakukan apapun, aku hanya ingin berbicara dengan seseorang saja — berbicara dengan penuh kejujuran dari lubuk hatiku. Tetapi rasanya sangat sulit menemukan seseorang tersebut, aku saja masih berbohong pada diriku sendiri.