
“What does love really mean?”
Menurutku tidak akan pernah ada sesuatu yang bisa menggambarkan apa itu ‘cinta’. Atau mungkin aku saja yang masih berputar di kepalaku sendiri bahwa sebenarnya cinta tak seindah seperti yang orang-orang pamerkan baru-baru ini. Tetapi sejujurnya aku tidak peduli, hanya saja itu cukup membuatku berpikir ‘cinta’ itu nyata atau hanyalah sebuah fana.
Aku hanya butuh satu orang untuk mengembalikan keyakinanku terhadap jiwa yang terdalam bahwa hal itu memang nyata. Jika aku diminta untuk mendeskripsikan apa arti sebuah ‘cinta’, mungkin tidak akan ada jawaban yang tepat dalam pikiranku. Tapi menurutku ilustrasi akan sebuah ‘cinta’ adalah lagu Frank Ocean yang berjudul “White Ferrari”.
https://youtu.be/Dlz_XHeUUis?si=7Uvg4qJQNXrVNU5Y
Kekosongan membuatku kembali memikirkan pilihan-pilihan hidup yang aku jalani selama ini. Entah memang tidak ada hal yang lebih baik aku lakukan lagi selain berpikir mau apa untuk kedepannya. Tapi itu hanyalah angan belaka, kenyataannya mungkin bisa saja jauh dari ekspektasi awalku. Memang sangat lumrah terjadi, tapi ini adalah hal yang masih membuatku menjadi manusia, aku masih mau dan bisa untuk berpikir.
Bicara soal cinta, jujur saja sebenarnya tidak ada hal yang ingin aku bicarakan. Namun, ada sesuatu yang seperti janggal rasanya, entah kenapa. Seperti ada gelembung yang saling berpantul, menunggu untuk pecah. Hanya sebuah ruang kosong, hanya ada angan di dalamnya. Selama ini mungkin ‘cinta’ yang aku dambakan hanyalah angan saja.
Pernah ada suatu perbincangan dengan temanku yang berawal dari topik struktur bangunan dan berakhir pada “unconditional love”, saat itu adalah pertama kalinya aku mendengar istilah ini. Pembicaraan hari itu membuatku berpikir lagi tentang bagaimana cinta bekerja. Rasanya begitu aneh ketika aku merasa begitu memahami sesuatu, tetapi ternyata aku sudah salah mengartikan hal itu, dan pada akhirnya aku harus mencari tahu dan mengulang dari awal untuk mempelajari hal tersebut.
“I have never regret anything from my life, but I regret that I ever hurt someone that once I thought I love.”
Sejujurnya aku mungkin seorang pecundang yang takut akan sebuah kenyataan yang ada. Aku juga mungkin sudah salah bahwa selama ini untuk menaruh sebuah ekspektasi terhadap seseorang. Sungguh ironi bahwa aku menulis tentang hal ini tapi aku dulu pernah melakukan hal yang sebaliknya, aku tahu dan jika memang masih ada waktu, mungkin aku akan gunakan itu untuk meminta maaf — namun sepertinya sudah tidak sempat lagi.
Semuanya akan datang dan pergi — aku rasa tidak ada yang salah untuk menghilang. Mungkin sudah cukup lama aku menutup diri dan terbang menghilang. Sebuah kebebasan tanpa batas, kebahagiaan yang selalu aku dambakan untuk bisa menjadi yang tak terbatas. Tetapi aku sadar kalau aku hanya terbang tanpa arah dan tanpa tujuan — untuk apa? Mungkin tak ada yang percuma, namun rasanya begitu hampa.
Janji-janji yang pernah aku buat dan kata-kata indah yang pernah aku rangkai sudah tak ada artinya lagi. Seperti residu yang menunggu waktu untuk menghapus jejaknya. Mungkin sekarang aku tidak perlu untuk banyak berkata-kata, tetapi memang sejujurnya sudah terlalu lama aku diam dan memang aku sudah terlalu lelah untuk mengatakan sesuatu demi sebuah validasi. Mungkin aku hanya perlu seseorang untuk percaya tanpa aku harus berkata. Meyakinkannya tanpa aku harus berkata seberapa aku peduli terhadap dirinya.
Mungkin sudah saatnya untuk membuka diriku lagi, meski rasanya sudah sangat hambar. Aku rasa sudah tidak ada lagi sensasi romansa seperti dulu, basi terpaut oleh waktu, dan yang tersisa hanyalah keyakinanku untuk bersikap semestinya memanusiakan manusia. Mungkin sudah terlalu dalam aku mengarungi dunia yang lepas, terjebak di dalam anganku sendiri, dan mencari sebuah kebenaran akan apa yang aku inginkan. Aku tidak butuh lagi ribuan kata cinta, ratusan janji, dan jutaan harapan untuk selalu bersama.
“All I need is someone to talk, that me and her still have a honesty to each other.”