image.png

Sudah menjadi kebiasaanku untuk memulai menulis dengan mendengarkan lagu Scott Street oleh Phoebe Bridgers. Satu lagu yang bisa membuatku bisa berpikir untuk menstruktur sebuah kalimat-kalimat yang akhirnya menjadi paragraf dan tersusun hingga menjadi sebuah satu topik yang koheren. Entah kenapa lagu-lagu dengan suasana mellow dengan lirik yang bercerita tentang sebuah ketidakpastian selalu membuatku nyaman dan aman di sebuah kesunyian yang hanya terdengar suara ketikan keyboard dan jangkrik di malam hari, kadang kala juga ada suara tokek yang berjumlah ganjil — begitu syahdu di kamar kecilku.

Lagu demi lagu, album demi album sudah terputar tetapi kenapa aku masih bingung dengan kalimat selanjutnya, mungkin aku sudah mulai bosan atau sedang mengalami creative block — tetapi aku masih menikmati rasa ketidakpastian dari melodi dan lirik dari lagu yang sedang aku putar. Lantas apa yang membuatku nyaman? Apakah perasaan dari sebuah ketidakpastian? Atau memang ini yang namanya ‘rumah’? Tetapi kenapa sebuah ketidakpastian bisa membuatku rasa nyaman. Memang apa arti sebuah ‘rumah’?

https://youtu.be/4yHuDKlcn-k?si=ypAomueVad4yPXqY

Banyak sekali terminologi dari sebuah rumah dan tiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda jika ditanya “Apa itu rumah?” Sebenarnya aku juga tidak tahu jawaban yang pasti apa. Memang tidak ada jawaban yang salah, bahkan semua jawaban tentang “Apa itu rumah?” itu semuanya benar. Jawabanku bila ditanya tentang arti dari rumah mungkin adalah tempat tidur, makan, mandi, dan mengerjakan tugas. Kadang kala juga bisa berbeda, bisa saja jawabanku “Tempatku menjadi diriku sendiri.”

Salah satu contoh adalah salah satu album dari Teen Suicide yang berjudul “dc snuff / waste yrself” menurutku adalah salah satu gambaran dari makna ‘rumah’ bagiku. Genre pop rock yang berisik dan pecah membuatku merasa nyaman dan bisa terkoneksi dengan diriku sendiri setelah entah aktivitas apa yang telah aku lakukan hari itu. Ketika hari sudah larut malam, sisa beberapa jam sebelum memejamkann mata, aku hanya butuh tempat untuk sendiri.

Aku masih belajar untuk menjadi seseorang yang terstruktur, menata segala sesuatu yang ada di genggamanku, hal paling simple yang dapat kulakukan adalah menulis. Setelah kurang lebih hampir satu tahun aku membiasakan untuk menulis dan menjabarkan isi kepalaku menjadi rangkaian kata-kata, aku mulai sadar bahwa aku sendiri masih sering kali tidak paham dengan diriku sendiri. Semua bayangan di kepalaku sendiri akan hilang bila aku berusaha memahaminya, seperti saatku menulis — semuanya sudah tergambar dalam pikiranku, tetapi akan hilang saat aku berusaha menstrukturkannya. Rasanya semakin aku mencari — semakin aku hilang dalam pikiranku sendiri.

Seperti tersesat di rumah sendiri, itulah yang aku alami. Tetapi memang aneh jika itulah sebuah perasaan yang membuatku nyaman, perasaan yang timbul dari sebuah ketidakpastian. Jadi, memang itulah arti dari sebuah rumah bagiku. Bukan tempat untuk singgah, bukan tempat untuk berserah ataupun tempat untuk merekah. Pada akhirnya rumah adalah cerminan dari diriku sendiri, tetapi tidak mungkin aku adalah rumahku sendiri. Lantas apa itu rumah?