
Playlist pekan ini yang cukup berantakan tapi sudah bisa membuat diriku memejamkan mata sambil menggelengkan kepala menyanyikan lirik demi lirik yang sudah kuhafal diluar kepala. Tugas-tugas yang tak kunjung usai ini cukup membuatku mempertanyakan kenapa weekend sangatlah singkat. Ibarat weekdays adalah iklan YouTube yang tidak bisa di skip, sedangkan jika sudah masuk weekend itu seperti bebas saja bisa aku skip dengan tidur.
Jam makan siang terasa sangat tipikal, dirangkap dengan sarapan karena bangun kesiangan. Teriknya matahari membuatku berspekulasi hari ini tidak akan datang hujan. Mungkin hidupku tak sehampa yang aku pikirkan, aku masih punya cucian baju yang sudah menumpuk.
Angan-anganku yang amat tenang mendengarkan shuffle lagu dari artis lokal favorit — Hindia, Kunto Aji, Banda Neira, dan lain-lain. Lirik demi lirik aku nyanyikan… sangat menjiwai, seperti penyanyi aslinya yang sedang melakukan live concert. Transisi lagu demi lagu membuatku semakin berpacu bak maestro pertunjukan teater klasik, tapi sayang sekali momen itu harus terpotong iklan berlangganan layanan lagu tanpa iklan. Sedikit kesal, tapi sesederhana itu membuatku tersenyum karena merasa konyol — sederhana tanpa bersandiwara.
Tidak terasa hari sudah menjelang sore, memang sudah sewajarnya bahwa weekend itu sudah ter-diskon hanya menjadi 14 jam saja. Weekend akan tetap berjalan — “sebab hari terlalu indah tuk kita lalui dengan bersunggut-sunggut”, begitu kata Banda Neira.
Aku sempatkan untuk berjalan-jalan tanpa tujuan, menikmati hawa sore hari yang tidak setiap hari aku nikmati. Perjalanan yang membuatku tenang. Aku amati jalanan yang mulai ramai, hari ini sudah sewajarnya sebagai schedule rutinan para pasangan muda-mudi untuk keluar berkencan ke tempat yang sudah mereka rencanakan tiga hari lalu.
Sungguh pemandangan yang hangat. Ada para bocah yang pulang dari lapangan, orang-orang di warung yang bercanda tawa sambil menunggu makanan mereka disajikan, lalu ada dua sejoli yang satunya sedang bucin mengenakan helm untuk pacarnya. Sudah tipikal suasana sore weekend seperti biasanya.
Momen yang begitu sederhana — sudah bisa membuatku tenang.
…
Menyusuri tiap jalan dan gang, begitu ramai suasana malam ini.
Cuaca malam ini diperkirakan cerah menurut ponselku. Memang sangat cerah, secerah pemandangan jalan raya dikala akhir pekan. Sepasang lampu mobil saling berkelipan, klakson kanan kiri saling bersautan. Sungguh sebuah suasana yang selalu aku nantikan — suara knalpot yang tidak ada habisnya, aku nikmati sepiring nasi goreng tidak pedas yang hampir dingin karena diterpa angin malam, sederhana — seperti suasana malam ini.
Langit begitu cerah hari ini, tidak ada awan siang tadi — tak ada angin yang meniup rambutku. Suasana yang tenang, hari ini membuatku betah. Sekarang, rebahan mungkin adalah keputusan paling tepat untuk kulakukan.
Aku lihat langit-langit kamar yang berwarna putih.
Terlihat tekstur kasar dan tak teratur di permukaannya.
Cat putih yang membuatku berpikir tentang sebuah kanvas. Aku lukiskan tiap benak yang terlintas dipikiranku — penuh warna.
All the who’s are there But the whys (but the whys) Are unclear (are unclear)
American Football — Honestly (1:52)… sebuah transisi yang mengguncang, tegang dan berirama — kanvas itu menjadi gelap gulita, tetapi makin jelas apa yang aku lihat… tetapi apa artinya?
…terlelap dalam anganku sendiri.
Terbangun dari tidurku — sudah lupa dengan angan-anganku tadi. Tetapi begitu jelas memoriku. Segelintir ingatanku tentang hal itu… sederhana sekali,
Aku menyelami ingatan-ingatanku yang begitu banyak.