image.png

“Anyway, don’t be a stranger”.

Sebuah lirik dari lagu Scott Street oleh Phoebe Bridgers. Sebuah pesan yang menyampaikan untuk tidak menjadi seseorang yang asing setelah tak “terkoneksi” lagi. Hal ini adalah yang aku alami selama dua tahun kebelakang. Keberlangsungan menjalani kehidupan tanpa koneksi yang dimana sekarang serba terkoneksi dan digital, yaitu sosial media.

Sosial media yang aku maksud disini adalah media yang menghubungkan kita dengan dunia luar yang sifatnya global seperti Instagram, Twitter, TikTok, dan lain-lain. Tetapi aku sendiri masih menggunakan YouTube sebagai media konsumsi sehari-hari karena konten-kontennya yang ditawarkan berbeda dari media sosial yang aku sebutkan tadi. Tapi kali ini aku tidak ingin membahas tentang YouTube.

Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku waktu itu adalah “Seberapa pentingnya sebuah media sosial?”

Menurutku, lihat kebutuhan masing-masing. Memang ada kalanya kita perlu dan wajib memiliki sebuah akun media sosial. Jika perlu membuat atau membangun sebuah branding/portofolio dengan media sosial sebagai medium dari hal tersebut, itu hal yang wajib. Tetapi karena selama dua tahun ini aku tidak memiliki kebutuhan dengan urgensi yang mengharuskan untuk memiliki sebuah akun atau laman di media sosial, jadi ya buat apa.

“Tapi kan punya sosial media gak juga harus karena branding, seru-seruan aja juga bisa, serius amat.”

Ya memang bisa diakui bahwa memang media sosial bukan hanya untuk branding saja, bisa saja hanya untuk senang-senang, tidak ada salahnya juga. Tapi disinilah titik awal dari keputusanku untuk tidak menggunakan media sosial lagi.

Dua tahun yang lalu, sebelumnya aku adalah orang yang sangat aktif di media sosial, seorang maniak — terutama Facebook, Instagram, dan Twitter. Singkat cerita, aku adalah contoh orang yang mungkin tidak ingin kalian jumpai di internet. Aku adalah seorang “Keyboard warrior”, itulah masalah pertamaku yang ada di media sosial, terutama di Twitter.

Kebebasanku untuk berargumentasi tanpa filter dan menjadi seperti harimau yang bebas di hutan, yang pada akhirnya berdampak pada sikapku di kehidupan nyata, perlahan memburuk karena efek domino dari apa yang aku lakukan di internet. Menjadi seorang yang egois, berisik, apatis dan pendendam.

Sungguh tak ada keraguan untuk menjadi orang yang jahat di internet karena sebuah topeng di balik matriks yang kompleks.

image.png

Instagram, sebuah platform yang jauh lebih friendly dari Twitter — tapi disini adalah titik awalku memutuskan untuk tidak ingin bermain dengan media sosial. Sebuah titik awal dari keputusan yang akan mengubah diriku dan bagaimana pandanganku terhadap sebuah realita.

Sebuah mekanisme yang sangat simple, teknologi yang sederhana dan memberi sebuah dampak terhadap keberlangsungan hidup kita — scroll and story.

Aku adalah salah satu orang yang banyak mengkonsumsi dan pembuat konten yang terdapat pada laman Instagram, dengan penggunaan rata-rata kurang lebih 2 jam per hari. Angka tersebut mungkin terdengar banyak, tapi percayalah itu mungkin angka yang normal dari mayoritas orang terutama anak muda yang bermain Instagram sekarang.

Konten yang disediakan mungkin jauh lebih friendly dan kegiatan “sosial” lebih sering ada di Instagram. Tapi itu adalah biang masalah yang membuatku “muak” kepada platform ini. Sebuah kemudahan yang pada akhirnya menyusahkan hidupku.

Cycle kehidupan sehari-hari yang tak pernah lepas dari menggunakan Instagram memberikan efek doktrin yang seakan-akan standar keberlangsungan hidup itu harus seperti apa yang orang lakukan. Inilah yang membuatku menjadi overthinking, ekspektasi berlebih terhadap sesuatu, kepo, suka membanding-bandingkan, merasa kekurangan, dan lain-lain. Bayangan-bayangan yang ada di kepalaku menghantui tiap hari dan pada akhirnya membuatku depresi.

Sebuah hal yang seharusnya menghibur, malah membuat pikiranku hancur.

Aku tahu hal ini mungkin tidak terjadi pada mayoritas orang dan memang hal ini bisa terjadi karena telah ada kejadian beruntun yang terjadi padaku. Pada saat itulah aku akhirnya memutuskan untuk tidak bermain media sosial lagi.

Singkat cerita, pada awalnya beradaptasi dengan lifestyle tanpa media sosial ditengah maraknya internet itu rasanya seperti berjalan dengan kacamata kuda. Rasanya aku seperti tidak memperhatikan apapun, hanya yang di depanku yang nampak pada pandanganku. Disinilah sebuah titik awal bagiku.