image.png

Dunia penuh imaji, pikiran manusia yang selalu mencari arti dari sebuah eksistensi, kesana dan kemari tanpa henti. Merenungkan secarik makna yang terlintas dalam pikiran. Perlahan pertanyaan itu akan terjawab secara alami.

Aku duduk bersandar dengan tenang, pikiran tidak karuan. Berimaji tentang sebuah makna. Apa dan kenapa.

Taman kota yang basah dipenghujung tahun. Jalanan becek memantulkan refleksi di pijakan, terlihat diriku yang kebingunan mau makan apa siang itu.

Entah apa yang terlintas dalam pikiranku tiba-tiba ingin menyantap nasi goreng disaat matahari ada tepat diatasku. Seteguk air mineral saja cukup ternyata untuk mengganjal laparku.

Ruang publik penuh distraksi, dan juga ruang untuk meditasi. Satu album mungkin cukup untuk mencari jawaban mengapa weekend berakhir pada jam 12 siang, setelah itu hanyalah imitasi dari hari Senin.

Rasa terintimidasi disaat melihat banyak orang berpacaran di taman membuatku merenungkan eksistensiku di dunia mengapa aku lebih suka menyendiri.

Merenungkan diri sekali lagi mendengarkan satu album lagu genre alternative-rock yang liriknya cukup mengena di hati.

Mendadak menjadi orang paling puitis di dunia dengan menulis puisi bahasa inggris di notes ponsel yang tidak akan pernah dibuka lagi.

Satu bait indah penuh makna berkat bantuan aplikasi translate tercipta, puisi yang sebenarnya tidak akan ada yang peduli jika tidak diupload di story Instagram.

Banyak pertanyaan terlintas dibenakku disaat aku berjalan mengelilingi taman, sampai aku lupa kalau aku sudah lapar. Aku masih tak paham mengapa jarang bahkan tidak ada orang berjualan nasi goreng di siang hari.

Mungkin jawabannya ada di Google tetapi aku terlalu malas untuk browsing mengapa semua pertanyaan yang terlintas dibenakku.

Rintik hujan mulai jatuh, aku berteduh dibawah gazebo sambil menikmati cilok yang sangat panas sampai aku tidak bisa melahapnya.

Terganggu pikiranku, kembali merenungkan perihal duniawi yang semakin mendistraksi imajku. Aku mulai sadar semua yang aku bayangkan tidak akan ada ujungnya.

Aku masih terduduk dan bersandar seperti posisi awal. Sia-sia akan waktu memikirkan hal yang tidak ada artinya. Klise, tapi aku apa adanya.